Home » What happen with CPO lately ?

What happen with CPO lately ?

by Hijjah Marhama

Harga CPO ( Crude Palm Oil) terus rally selama 7 pekan terakhir sejak penurunan terdalam pada tanggal 20 September 2021 menyentuh di level harga 4443. Namun berselang 2 minggu setelah penurunan dalam tersebut, harga CPO untuk pertama kalinya menyentuh ke level 5000 dengan membentuk All time high nya pada waktu itu di level 5067. Hingga saat ini harga CPO terus menguat, per 3 November 2021 harga CPO closing di level 5446.

Apa yang menyebabkan harga CPO terus mengalami penguatan ?

Jika adanya kenaikan harga pada suatu barang biasanya terjadi karena adanya peningkatan demand yang melebihi supply akan barang tersebut. Begitupun yang terjadi pada pada komoditas CPO yang saat ini mengalami peningkatan permintaan dari India, China, Korea Selatan, Jepang dan Eropa yang lebih tinggi dari pasokan sehingga hal ini yang menjadi faktor utama yang membuat harga CPO melonjak.

Adapun faktor yang membuat permintaan akan harga CPO ini naik didukung oleh kebijakan pemerintah India yang kembali menurunkan tarif bea masuk untuk produk CPO menjadi 2,5% dari yang sebelumnya 10%.

Selain dari sisi demand, supply dari Indonesia dan Malaysia sendiri belum kembali ke level terbaik walaupun sebelumnya RI-Malaysia juga sudah menyepakati terkait peningkatan pasar sawit domestic demi menjaga tren positif harga CPO, namun memang adanya faktor cuaca La nina pada musim hujan ini, menjadi hal yang dilemma, disatu sisi curah hujan yang tinggi dapat membantu meningkatkan produksi CPO tapi disisi lain bila terjadi banjir, transportasi pun pasti terkendala.

Selain itu juga adanya wacana terkait B30 yang akan ditingkatkan menjad B40 pada tahun depan, Jika benar pemerintah akan meningkatkan penggunaan biodiesel hingga 40% ditahun depan, maka tingkat produksi CPO diprediksi juga akan baik kedepannya

Usaha lainnya juga yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah dengan menjajaki kerja sama dengan negara Turki demi bisa menggenjot Ekspor CPO.

Saham apa yang diuntungkan ?

Selain Batubara yang menjadi komoditas andalan, Indonesia juga sudah menjadi produsen CPO pertama sejak tahun 2006, dan tentunya lonjakan harga CPO ini turut memberikan dampak positif bagi saham perusahaan sawit karena meningkatkanya profit margin dan pendapatan dari penjualan sawit mentah ataupun minyak sawit sehingga menyebabkan laba bersih yang meningkat.

LSIP membukukan pendapatan RP2.17 Trilliun, naik 39,1% dibandingkan dengan perolehan semester 1 2020 yang hanya sebesar Rp 1,56 Trilliun

SIMP membukukan laba RP 219 milliar, yang mana sangat kontras dengan semester 1 2020 mengalami rugi Rp 301 miliar

PSGO membukukan laba bersih Rp 61,44 Milliar per Kuartal III/2021 naik 2547% yoy yang pada Kuartal III/2020 hanya sebesar Rp 2,32 Miliar

AALI mencatatkan  laba bersihnya sebesar Rp 1,47 Trilliun di Kuartal III/2021 angka ini meningkat 152% yoy

DSNG membukukan laba bersih Rp 424 miliar atau naik 162% yoy

TAPG membukukan laba bersih Rp 713 Miliar bertumbuh sebesar 186,3% yoy

SGRO labanya tumbuh 2768% menjadi Rp 509.66 Miliar yoy diiringi pendapatan yang juga bertumbuh 73.33% menjadi Rp 3.9 Trilliun yoy.

Seasonality Harga CPO

Grafik diatas merupakan data monthly seasonality CPO dari tahun 1999 – 2021 secara rata rata, dan dapat kita cermati ternyata memang penguatan harga CPO terjadi pada Q4 atau akhir tahun di bulan bulan Oktober – November – Desember. Hal ini juga yang menyebabkan adanya peningkatan laba bersih diiringi pertumbuhan pendapatan dari saham emiten CPO pada Kuartal III.

Disclaimer On

***

Untuk Buka Rekening saham dan join Grup Diskusi silahkan menuju link berikut: bit.ly/JoinRepublikInvestor

Anda Mungkin Tertarik Dengan Arti

Share artikel ini jika menurut Anda bermanfaat :)

Related Posts

Leave a Comment

Subscribe to our newsletter

Don't miss new updates on your email