Home » Menyikapi Aksi Korporasi Right Issue

Menyikapi Aksi Korporasi Right Issue

by Hijjah Marhama

Akhir – akhir ini sejumlah emiten mengumumkan rencana untuk melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Belum lama ini BBRI baru saja usai menggelar Right Issue dengan jumlah HMETD yang telah di-exercise hingga Rabu (22/09) telah mencapai 27,48 miliar lembar saham, yang jika dinominalkan mencapai Rp.93,4 triliun atau mencapai 97,4% dari total right issue.

Selain itu ada juga saham BABP  yang menerbitkan sebanyak 14,23 miliar saham baru atau sebesar 33,33% dari modal, ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah dilaksanakannya rights issue, dengan harga pelaksanaan Rp 318 per saham. Dengan total saham baru tersebut, perolehan dana akan mencapai Rp 4,5 triliun.

Ada juga saham TPIA, emiten yang bergerak di bidang petrokimia juga merencanakan penambahan modal lewat right issue dengan melepas sebanyak-banyaknya 7.166.479.740 atau 7,16 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 200. 

Dan sejumlah bank bank mini juga yakni bank BUKU II (bank umum kelompok usaha dengan modal inti Rp 1 triliun sampai Rp 5 triliun) sedang ramai-ramai melakukan penambahan modal melalui rights issue.

Dan saham saham lainnya yang sudah melakukan Right Issue di 2021 ini seperti BNLI, FREN, SAME, WSKT dan masih banyak lagi yang akan melakukan Right Issue menjelang akhir tahun.

Sebenarnya apa itu Right Issue ?

Secara teori Right Issue atau yang dikenal juga dengan HMETD (HAK Memesan Efek Terlebih Dahulu) adalah Hak bagi pemegang saham untuk membeli saham baru pada harga tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. HMETD dapat diperdagangkan dalam kurun waktu tertentu.

Right Issue sendiri dilakukan oleh perusahaan / emiten sebagai suatu aksi korporasi yang dilakukan dengan menerbitkan saham baru,dimana dari penerbitan ini menimbulkan hak yang melekat pada saham yang memungkinkan para pemegang saham yang ada untuk membeli efek baru dengan tujuan menambah modal atau ekuitas bagi perusahaan atau dengan kata lain mencari dana segar.

Misal Perusahaan Republik Investor dengan kode emiten RPIS memiliki jumlah saham beredar sebanyak 10 M lembar. RPIS membutuhkan dana segar dengan melakukan Right Issue atau menerbitkan saham baru sejumlah 500 juta lembar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp. 200/ lembar saham Dari aksi korporasinya ini, RPIS mendapatkan dana segar sebesar 500 jt x Rp. 200 = Rp. 100 M.

Lalu untuk apa perusahaan atau emiten melakukan Right Issue ?

Pertanyaan ini sangat menarik, dan dapat memberikan katalis positif ataupun negatif bagi perusahaan, dan hal ini juga yang harus diperhatikan bagi para investor apakah Right Issue ini menjadi hal yang baik atau kurang baik untuk kita berinvestasi pada perusahaan tersebut.

Pada dasarnya dengan penerbitan saham baru ini memberi dampak pada meningkatnya kapitalisasi perusahaan, dan perdagangan saham di bursa menjadi lebih likuid karena bertambahnya jumlah lembar saham. 

Aksi penambahan modal ini tentu dilakukan dengan maksud atau tujuan tertentu, secara garis besar untuk keperluan perusahaan yakni ; 1. Untuk melakukan ekspansi usaha, 2. Membayar Utang.

Hal ini akan memberikan katalis positif bagi perusahaan jika dilakukan untuk ekspansi usahanya, karena akan membuka prospek dan kinerja yang lebih baik lagi kedepannya. Namun lain hal jika dana yang didapat dari Right Issue ini digunakan untuk membayar utang, hal ini relative menjadi katalis negatif bagi perusahaan atau emiten tersebut, karena hal tersebut akan menimbulkan pertanyaan lagi untuk perusahaan tersebut, apakah perusahaan ini tidak memiliki asset dan yang cukup untuk mengcover utangnya ? atau apakah perusahaan ini tidak memiliki kinerja yang baik sehingga kurang mampu untuk menghasilkan nilai profitabilitas yang cukup ? dan pertanyaan dengan sentiment negatif lainnya.

Pada BBRI, dana yang telah dikumpulkan juga akan diperuntukan perusahaan untuk menambah modal pembentukan Holding BUMN Ultra Mikro bersama 2 BUMN lain, yakni Pegadaian dan PNM (Permodalan Nasional Madani).

Pada TPIA juga menjadi hal yang menarik menarik karena memiliki harga pelaksanaan jauh di bawah harga pasar.Dimana harga pelaksanaan rights issue TPIA adalah sebesar Rp 4.082 per saham dan harganya dipasar saat ini Rp. 7150 per 15 Oktober 2021. Dana hasil rights issue yang digunakan untuk ekspansi pabrik juga tergolong positif karena ada peluang peningkatan kinerja dalam jangka panjang.

Selain itu dari sektor konstruksi, Right Issue pada saham WSKT cum date di pasar reguler dan negosiasi pada 26 November 2021 dengan harga pelaksanaan Right Issue WSKT 780 per saham. Menarik untuk ditebus karena dana yang didapat nantinya oleh WSKT untuk dipergunakan untuk penyelesaian proyek jalan tol, modal kerja proyek konstruksi, serta investasi pengembangan.

Apa untungnya Right Issue bagi investor ?

Secara langsung, keuntungan dari aksi korporasi right issue adalah untuk investor lama bisa mendapatkan penambahan saham baru dengan harga lebih murah.Apalagi jika perusahaan tersebut memiliki kinerja dan prospek yang bagus, tentunya hal yang sangat menguntungkan bagi investor lama untuk menambah jumlah / porsi kepemilikan saham dengan harga yang lebih rendah.
Para investor yang sudah masuk di perusahaan akan diprioritaskan untuk mengambil saham baru tersebut sebelum ditawarkan kepada investor baru, namun jika hak ini tidak digunakan investor lama, maka bisa diambil oleh investor baru atau biasa disebut sebagai standby buyer.

Untuk itu, penting bagi kita sebagai investor memperhatikan apa tujuan dari aksi korporasi perusahaan, betul betul memahami bagaimana prospek perusahaan tersebut kedepan, sehingga dapat dengan bijak menyikapi dan mengambil keputusan dari aksi korporasi perusahaan tersebut.

***

Untuk Buka Rekening saham dan join Grup Diskusi silahkan menuju link berikut: bit.ly/JoinRepublikInvestor

Share artikel ini jika menurut Anda bermanfaat 🙂

Share artikel ini jika menurut Anda bermanfaat :)

Related Posts

Leave a Comment

Subscribe to our newsletter

Don't miss new updates on your email