analisa chart pattern
Home » Cara mengetahui saham anda layak untuk investasi atau tidak

Cara mengetahui saham anda layak untuk investasi atau tidak

by Dony Aristio

Untuk beberapa orang menunggu bukanlah hal yang menyenangkan, terlebih untuk menunggu cuan atau keuntungan dari bertransaksi saham.

Namun jika di pahami apakah dengan memperhatikan setiap saat pergerakan harga saham dapat menjamin keuntungan yang maksimal?

Terlebih jika anda adalah seorang pebisnis atau karyawan yang tidak punya waktu untuk selalu memperhatikan running trade setiap hari.

Terkadang emosi dapat mengalahkan segalanya, sama halnya dengan emosi yang kita bawa dalam bertransaksi saham.

“Loh sypa bilang transaksi saham pake emosi mas don …. ??”
Pada dasarnya kita juga tidak sadar bahwa semakin sering kita melihat running trade semakin sering pula keinginan untuk jual atau membeli saham.

Ga percaya… ?
Pernah ngerasa ngga kalo sebenernya ketika kita beli atau jual saham, ngga ada dasar atau alasan yang kuat untuk ngelakuin itu.
Contohnya waktu udah beli tapi ngga lama saham turun, terus baru mikir

“ini perusahaan produknya apa ya??”
“Kira-kira laporan keuangannya untung atau rugi??”

Setelah ruginya makin dalem baru nanya, “ini saham ada berita apa ya sampe turunnya dalem.. atau harga wajarnya diberapa sebenernya??”

Nah sebelum terlalu jauh penyesalan sampai pertanyaan itu keluar, mending kita cek dulu, saham yang ingin kita beli layak untuk investasi atau ngga.

1. Perhatikan Penjualan atau laba bersihnya.

Yang pertama kita harus tau, penjualan atau laba bersihnya naik atau ngga dari tahun ke tahun?
Jika dalam selang beberapa tahun ada penurunan laba bersih sesekali I’ts ok lah… karna kita melihat juga dari iklim usahanya,

apakah ada perlambatan daalam Gross Domestic Product (GDP) atau tidak, asal penurunannya tidak berlanjut pada kuartal atau tahun tahun berikutnya.

Lalu harus di perhatikan juga jangan –jangan laba bersihnya naik tapi sales nya tidak mengikuti, bahkan turun dalam beberpa periode.

Bisa jadi ini bukan menunjukan perusahaan yang sehat, tetapi menunjukan perusahaan yang desperate (putus asa). Karena perusahaan tersebut banyak memangkas tenaga kerja, biaya marketing dan melakukan efisiensi  lainnya. Yang mana perputaran uang tidak terjadi dari sisi penjualannya.

Gambar 1.0 menunjukan contoh penjualan dari JPFA pada tahun 2019 naik dibandingkan dengan tahun 2018

2. Free Cashflow

Perusahaan yang baik bisa di lihat dari  free cashflownya, positif atau tidak, jika free cashflownya negatif berarti anda membeli perusahaan yang tidak tumbuh, mengapa demikian? Karna free cashflow yang positif akan digunakan perusahaan sebagai laba ditahan sebagian juga digunakan untuk membagikan dividen. Free cashflow yang negatif menyebabkan perusahaan meningkatkan hutang untuk meningkatkan modal.

Rumus untuk mengetahui Free Cashflow adalah, Arus kas operasi – belanja modal

3. DER (Debt to Equity Ratio) Rasio hutang terhadap modal

Berikutnya ciri perusahaan yang sehat yaitu DER yang kecil, DER yang kecil menunjukan hutang yang lebih sedikit dibandingkan dengan modal perusahaan. Dengan begitu resiko perusahaan lebih terjaga dari pembengkakan hutang. Rasio DER dibawah 1 menunjukan bahwa hutang yang lebih kecil dibanding dengan modal perusahaan. Berikut merupakan rumus mencari DER:

DER (Debt to Equity Ratio) =  Total liabilitas / Total Equity

Dari beberapa bahasan diatas semuanya mengacu pada laporan keuangan perusahaan. Dengan begitu kita menjadi lebih faham saham apa yang layak untuk di investasikan. Jadi jangan malas untuk membaca laporan keuangan perusahaan.

Anda Mungkin Tertarik Dengan Arti

Share artikel ini jika menurut Anda bermanfaat :)

Related Posts

Leave a Comment

1 comment

isidompet.online 23 June 2020 - 7:32 PM

Mantab infonya . Basic, tapi memang disaat krisis seperti sekarang, dua faktor ini, laba dan hutang, jadi faktor utama dalam menilai emiten.

Reply

Subscribe to our newsletter

Don't miss new updates on your email