dampak resesi amerika
Home » Resesi Amerika Dan Dampaknya Untuk Indonesia

Resesi Amerika Dan Dampaknya Untuk Indonesia

by Dony Aristio

Pada awal pekan ini IHSG di hantui sejumlah sentiment dari regional dimana pada pembukaan pasar pada senin 25 maret 2019 IHSG di buka dengan penurunan sebesar 0.79% di harga 6.473.

Hingga artikel ini ditulis, pasar saham kawasan Asia juga mengalami penurunan besar seperti Indeks Nikkei yang anjlok 3.22%, indeks Shanghai melemah 1.34%, indeks Hang Seng turun 1.89%, indeks Strair Times turun 1.37% dan indeks Kospi terpangkas 1.71%.

IHSG

Sementara dari Wall Street, tiga indeks utama amblas pada perdagangan akhir pekan lalu. Dow Jones Industrial Average (DJIA) anjlok 1,77%, S&P 500 ambrol 1,89%, dan Nasdaq Composite jatuh 2,5%.

Saat ini Pelaku pasar cemas karena melihat ada pertanda menuju resesi dalam waktu dekat. Sinyal itu datang dari pasar obligasi pemerintah AS.

Penyebab dari munculnya dugaan ini disebabkan pada akhir pekan lalu dimana yield obligasi pemerintah AS tenor tiga bulan berada di 2,4527%, lebih tinggi dari pada tenor 10 tahun yang sebesar 2,4373%.

Terbaliknya besaran yield antara obligasi bertenor pendek dan panjang dapat juga disebut sebagai inverted yield (inversi yield). Dan dalam beberapa kejadian, resesi Amerika didahului dengan terjadinya inverted yield ini.

source:
https://investingcaffeine.com/tag/yield-curve/


Ahli strategi suku bunga di BMO Capital Markets, Jon Hill mengatakan “meski inversi saat ini tidak menjamin terjadinya resesi, riset BMO terhadap model Fed New York dan Cleveland menunjukkan 30% peluang akan terjadi resesi dalam 12 bulan ke depan.”

Resesi diartikan sebagai kondisi di mana produk domestik bruto (GDP) mengalami penurunan atau pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal secara berturut-turut atau lebih dari satu tahun.

Sesuai dengan namanya yang berarti kelesuan atau kemerosotan, resesi mengakibatkan penurunan secara simultan pada setiap aktivitas di sektor ekonomi. Sebut saja lapangan kerja, investasi, dan juga keuntungan perusahaan

Saat AS resesi, maka permintaan produk-produk made in Indonesia akan berkurang karena memang aktivitas ekonomi lesu. Penurunan ekspor ke AS akan mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan karena posisinya yang begitu strategis.

Ekspor non-migas Indonesia ke Amerika sepanjang 2018 mencapai US$ 17.67 miliar dilansir Bada Pusat Statistik (BPS). Untuk itu semoga kondisi ekonomi amerika tetap baik karna berkaca pada kejadian tahun 2009 kali terakhir terjadi, dampaknya sangat luar biasa bagi Indonesia

Share artikel ini jika menurut Anda bermanfaat :)

Related Posts

Leave a Comment

Subscribe to our newsletter

Don't miss new updates on your email