perang dagang china amerika
Home » Tentang Perang Dagang dan Pertumbuhan Reksadana

Tentang Perang Dagang dan Pertumbuhan Reksadana

by Muhammad Ikhsan Burhanuddin

Pertemuan antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut) yang berlangsung tanggal 27-28 Februari 2019 di Hanoi Vietnam tidak menghasilkan kesepakatan seperti yang dieskpektasikan oleh para pelaku pasar.

Gagalnya kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan tersebut menurut pihak AS karena Korut ingin agar semua sanksi ekonomi dicabut seluruhnya, sedangkan AS ingin agar pencabutan sanksi ekonomi dilakukan secara bertahap sampai dengan akhir tahun 2019.

Tim negosiator perang dagang antara AS dan China yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan AS Larry Kudlow dan Wakil Perdana Mentri China Liu He menyatakan bahwa draft perjanjian damai antar kedua negara sudah hampir selesai dan rencananya akanditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada AkhirMaret 2019 di Washington DC. Isi perjanjan tersebut memuat beberapa point diantaranya:

1. China setuju untuk menurunkan bea masuk produk pertanian, kimia dan otomotif dari AS.

2. China Menghapus batas kepemilikan asing di bidang industri mobil dan menurunkan bea impor kendaraan dibawah 15%.

3. AS akan menghapus seluruh sanksi tarif impor yang diberikan kepada China.

Positifnya pembicaraan kedua negara akan memberikan sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi global maupun domestik kedepannya dimana isu perang dagang selama ini selalu menjadi salah satu faktor ketidakpastian global.

Secara year to Date, Reksadana Saham dan Indeks Terkena Aksi Profit Taking

NAB (dalam Triliun); Sumber: OJK

Data diatas menyajikan 6 jenis reksadana (Saham, Pasar Uang, Campuran, Pendapatan tetap, Terproteksi, dan Indeks). Secara year to date Hingga 15 Februari 2019 reksadana Saham dan Indeks mencatatkan penurunan jumlah NAB.

Reksadana Saham mencatatkan penurunan 3,7% dari Rp143, 8 triliun menjadi Rp138,46 triliun. Adapun Reksadana Indeks mencatatkan penurunan 2,8% dari Rp5,33 triliun menjadi Rp5,18triliun.

Adapun 4 jenis reksadana lainnya perlahan tapi pasti menunjukkan trend kenaikan darisisi NAB. Reksadana Pasar uang mencatatkan kenaikan 23,8% dari Rp42, 8 triliun menjadi Rp53triliun. Adapun Reksadana Campuran mencatatkan kenaikan 2,45% dari Rp24,4triliun menjadi Rp25 triliun.

Reksadana Pendapatan Tetap mencatatkan kenaikan4,23% dari Rp101,6triliun menjadi Rp105,9triliun. Adapun Reksadana Terproteksi mencatatkan kenaikan 0,52% dari Rp141,41 triliun menjadi Rp142,15triliun.

Share artikel ini jika menurut Anda bermanfaat :)

Related Posts

Leave a Comment

Subscribe to our newsletter

Don't miss new updates on your email