inflasi indonesia
Home » Inflasi Februari 2019 Rendah, Apa Dampaknya?

Inflasi Februari 2019 Rendah, Apa Dampaknya?

by Dony Aristio

Pada pekan lalu Bank Indonesia (BI)memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada tanggal 20-21 Febuari 2019.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi inti sepanjang Februari 2019 akan rendah. Sebab, tingkat permintaan saat ini dinilai masih dapat dipenuhi dari jumlah pasokan dalam negeri.

Beberapa faktor yang mendasari hal tersebut diantaranya adalah:

Yang pertama “Agregat supply masih tinggi dari permintaan agregat atau ouput gape-nya masih negatif. Sehingga kami tidak melihat meskipun permintaan naik tidak ada tekanan inflasi inti dari permintaan,” kata Perry di Gedung BI, Jumat (22/2).

Faktor yang kedua adalah sejak awal tahun ekspektasi inlfasi diperkirakan tetap rendah, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada januari inflasi sebesar 0.32 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan “Deflasi harga pangan, cabai turun 0,07%, daging ayam ras turun 0,06%. Lalu telur turun 0,05%. Harga cabai rawit turun 0,02%. Harga bensin turun 0,07% khususnya karena penurunan BBM non subsidi,” ujarnya.

Pada pekan ketiga Febuari 2019 Bank Indonesia (BI) memperkirakan terjadi deflasi sebesar 0.07%, sehingga inflasi tahunan (year on year) diperkirakan 2.58%.

Inflasi memiliki dampak positif maupun negatif. kemerosotan nilai uang yang ringan cenderung memberikan dampak positif karena dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan memicu masyarakat untuk berinvestasi.

Share artikel ini jika menurut Anda bermanfaat :)

Related Posts

Leave a Comment

Subscribe to our newsletter

Don't miss new updates on your email