Home » Apa Itu DNDF?

Apa Itu DNDF?

by Muhammad Ikhsan Burhanuddin

Bank Indonesia akan meluncurkan aturan mengenai transaksi Non-Deliverable Forward di pasar domestik (Domestik NDF/DNDF) yang diharapkan dapat memperdalam pasar valuta asing sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Hal ini dilakukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, sebab aksi borong valas di pasar spot merupakan salah satu penyebab tertekannya nilai tukar rupiah belakangan ini.

Mengenal Istilah NDF

NDF ini secara sederhana merupakan instrument derivatif seperti kontrak forward, yang artinya kontrak membeli atau menjual valas dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan kurs yang telah ditentukan di awal.

Manfaat NDF ini adalah sebagai upaya lindung nilai atau hedging. Konsep forward dan non-deliverable forward ini memiliki perbedaan. Dalam forward, kedua belah pihak harus menyerahkan uang masing-masing pada kurs yang telah disepakati oleh kedua belah pihak tersebut.

Sementara itu, dalam NDF, kedua belah pihak hanya menyerahkan selisih kurs hasil perkiraan kurs, namun bukan dalam rupiah, melainkan dalam bentuk dollar AS. Khusus DNDF (Domestik NDF) selisih kurs tersebut harus dikonversi kedalam rupiah menggunakan benchmark JISDOR

NDF ini rata-rata dilakukan dalam jangka satu bulan sampai satu tahun. Para investor umumnya menggunakan NDF untuk lindung nilai mata uang negara berkembang karena mata uang itu tidak dapat digunakan untuk trasaksi secara bebas di luar negeri.

Contoh penerapan NDF

Sebagai contoh penerapan NDF ini, misalkan terdapat seorang investor asing yang memperdagangkan NDF Rupiah di pasar Singapura.

Kemudian, seorang investor lain membeli kontrak forward senilai US$ 2 juta pada kurs Rp 13.300 per US$. Ketika jatuh tempo dalam dua bulan berikutnya, kurs pasar (spot) sebesar Rp 13.500 per US$. Hal ini berarti investor akan untung sebanyak = Rp 13.500 – Rp 13.300 x 2 juta = Rp 400 juta.

Harus Ada Underlying

Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Yoga Affandi mengatakan untuk menggunakan instrumen hedging ini, BI mengatur beberapa ketentuan. Pertama, transaksi DNDF hanya dapat dilakukan jika memiliki dokumen bukti kebutuhan transaksi (underlying), seperti perdagangan barang dan jasa, investasi, pinjaman dalam bentuk valas, atau kredit modal kerja.

Kedua, nominal yang ditransaksikan tidak lebih besar dari jumlah underlying-nya. Ketiga, jangka waktu transaksi DND tidak lebih lama dari jangka waktu underlying.

“Artinya, tidak semua orang bisa memanfaatkan instrumen ini. Hanya mereka yang punya ‘underlying’, seperti eksportir, importir, dan investor,” katanya.

Sasaran dari DNDF adalah eksportir, importir dan investor yang memiliki kewajiban atau eskposur tinggi terhadap valas. Perry Warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia berharap transaksi DNDF akan mendukung upaya stabilitas nilai tukar rupiah karena pasar valas akan menjadi semakin dalam.

Pengusaha dan korporasi selama ini banyak yang memilih opsi untuk melakukan lindung nilai di pasar NDF di luar negeri. Hal itu menambah pengaruh negatif terhadap harga spot dolar AS dan rupiah di pasar domestik.

 

author: Ihsan

 

Share artikel ini jika menurut Anda bermanfaat :)

Related Posts

Leave a Comment

Subscribe to our newsletter

Don't miss new updates on your email