Home Analisa SahamAnalisa Fundamental ANALISA LAPORAN LABA RUGI JPFA Q1 2019

ANALISA LAPORAN LABA RUGI JPFA Q1 2019

by Dony Aristio

Sebagian besar investor saham tertarik menganalisa dengan menggunakan metode analisa Teknikal, dengan ini investor dapat menggunakan analisa dengan time frame yang relatif menengah atau medium term hingga time frame jangka pendek atau short term. Sebagian lagi memilih untuk investasi jangka panjang menggunakan metode fundamental dengan tidak terlalu memerlukan waktu untuk sering melihat runing trade setiap harinya untuk mengawasi gejolak harga di pasar saham.

Tidak ada yang salah dari dua metode analisa tersebut, namun untuk beberapa investor yang tidak memiliki waktu yang banyak untuk memperhatikan harga sahamnya setiap hari. Berikut ini merupakan metode analisa fundamental yang mana dengan membaca dan menganalisa laporan keuangan. Kita dapat menentukan sehat atau tidaknya sebuah perusahaan dan prospek harga saham di kemudian hari dengan menghitung harga wajar saham.

Sebelum kita masuk lebih dalam tentang pembahasan analisa laporan keuangan, ada baiknya untuk teman-teman yang masih baru dalam mengenal laporan keuangan, bisa di cek pembahasan sebelumnya tentang laporan keuangan di link berikut : https://republikinvestor.net/mengenal-laporan-laba-rugi-emiten/

Kali ini kita akan mencoba menganalisa Laporan Laba Rugi emiten yang sudah lama melantai di bursa saham indonesia.

JPFA memiliki penjualan neto sebesar 8.564.732 di kuartal 1 2019, ko kecill bgt penjualannya???….

nah sebelum salah sangka di laporan keuangan ini menggunakan satuan jutaan rupiah. Jadi hasil yang tertera tinggal dikalikan saja dengan jutaan rupiah. Biasanya di laporan Laba rugi terdapat dua periode untuk membandingkan kinerja keuangannya. Misalnya di laporan ini kita membandingkan periode tahun 2019 dan 2018. Untuk membadingkan mari kita hitung

(8.564.732/7.860.856)-1 = 0.08954190 atau jika disederhanakan menjadi dua angka di belakang koma menjadi 8.9%. Peningkatan pendapatan yang cukup besar di banding tahun sebelumnya.

nah peningkatan pendapatan tersebut ternyata di ikuti juga dengan kenaikan beban pokok penjualan di tahun 2019 atau naik sebesar 16%. Jadi dengan ini bisa kita simpulkan bahwa kenaikan pendapatan tidak seberapa besar dibandingkan kenaikan beban pokok pendapatan yang mana dapat dilihat bahwa meskipun pendapatan di tahun 2019 lebih tinggi namun mencatatkan laba bruto yang lebih kecil dari tahun 2018.

Selanjutnya kita mencari laba tahun berjalan atau laba bersih dengan mengurangi laba (rugi) sebelum pajak dengan beban pajak penghasilan. Laba tahun berjalan JPFA kuartal 1 2019 sebesar 310.741.

Laba persaham atau earning per share (EPS) merupakan salah satu poin dalam menganalisa laporan keuangan perusahaan. Jika EPS perusahaan naik dari tahun sebelumnya ini menandakan perusahaan trus bertumbuh. EPS dihasilkan dari Laba yang diatribusikan perusahaan di bagi saham yang beredar.

Dari sini terlihat laba per sham atau Earning Per Share (EPS) JPFA di kuartal 1 2019 sebesar 27. Meskipun terjadi kenaikan di bagian penjualan namun laba persaham yang di tawarkan kepada investor justru menurun di banding tahun sebelumnya.

Selanjutnya untuk membandingkan harga saham JPFA saat ini termasuk dalam kondisi over price atau discount price, salah satau rasio yang dapat digunakan sebagai valuasi adalah Price Earning Ratio(PER). Rasio ini mebandingkan harga saham saat ini dengan Laba Per Saham (EPS).

Secara EPS (Anual) tahun 2018 JPFA sebesar 187 (bisa di lihat di laporan keuangan tahunan JPFA 2018)

Laporan keuangan Tahunan JPFA 2018

Yang berarti PER JPFA (1.535/187) = 8.2x

menandakan bahwa Investor bersedia untuk membayar Rp. 8,- untuk setiap Rp. 1 pendapatan perusahaan. Ini merupakan harga yang murah jika kita bandingkan dengan PER industry yang sebesar 12.08 dan sektoral sebesar 11.82 .

Share artikel ini jika menurut Anda bermanfaat :)

Related Posts

Leave a Comment

Subscribe to our newsletter

Don't miss new updates on your email